Aplikasi Yang Mati di Tahun 2018

menjamurnya tech startup dan bermunculannya aplikasi baru  tanpa henti, sudah bisa dipastikan bahwa akan banyak sekali aplikasi yang terhimpit dan akhirnya mati dengan sendirinya karena persaingan yang luar biasa.

Apllication that died in 2018

kita lihat beberapa aplikasi besar yang hidupnya berakhir di tahun 2018:

 

1. Path

Path menutup aplikasinya pada tanggal 18 Oktober 2018. Aplikasi Path pernah disetarakan dengan Facebook, bahkan dinobatkan menjadi “the next Facebook”. Aplikasi yang membatasi jumlah pertemanan pada jumlah yang spesifik ini pada masa kejayaannya menerima suntikan dana sebesar USD 70 juta dari nama-nama besar, bahkan dari co-founder Facebook. Dengan klaim 10 juta users (yang mana 50% nya berlokasi di Indonesia), sayang sekali Path harus mengakhiri hidupnya tahun ini.

 

2. Yahoo Messenger

Yahoo Messenger logo

Yahoo Messenger resmi menutup jasanya pada tanggal 18 Juli 2018. Mendengar kata Yahoo Messenger banyak yang justru bernostalgia, karena memang Yahoo Messenger lebih populer pada masa lampau, di luncurkan di tahun 1998 dengan nama Yahoo pager, Yahoo Messenger seperti nenek moyang dari instant messenger kekinian yang sudah banyak beredar. Dengan berkurangnya jumlah user dan relevansi aplikasinya di masa sekarang mulai dipertanyakan, Yahoo memutuskan untuk menghentikan aplikasi mereka dan berencana membuat aplikasi lain yang diharapkan dapat menyaingi Whatsapp. Apakah Yahoo bisa berhasil melakukan hal tersebut, masih perlu dibuktikan di masa mendatang.

 

3. Tamago

tamago logo

Streaming service untuk e-sport dan konser sejenis Twitch ini juga berencana menutup aplikasinya pada tanggal 31 Desember ini karena mengalami kesulitan dalam melakukan monetisasi dalam sistem mereka. Semua sisa pendapatan para streamer akan diselesaikan tanggal 8 Desember (saat artikel ini ditulis, seharusnya semua pembayaran sudah selesai dilakukan).

 

4. Google+

Google+ Logo

Google berencana untuk menutup aplikasi sosial media mereka pada tahun 2019, tepatnya April 2019. Hal ini dilakukan setelah terjadi kebocoran data besar-besaran yang mengeskpos 500.000 data anggota Google+. Walaupun Google berhasil melakukan perbaikan pada bug yang menyebabkan kebocoran ini, namun mereka tetap akan menutup Google+ dikarenakan memang nyatanya layanan ini tidak terlalu populer di masyarakat dan gagal memenuhi ekspektasi anggotanya.

Tadi adalah nama-nama besar yang bisa kita rangkum, padahal sebanyak ratusan tech startup gugur setiap tahunnya, kadang bahkan sebelum sempat terdengar namanya. Saat ini kita sudah mencapai titik jenuh dari model bisnis tech startup dan kekhawatiran Mark Cuban soal tech startup bubble burst mungkin akan terjadi atau sudah terjadi.

Siapa lagi yang akan turut jatuh dan tenggelam dalam kubangan bangkai tech startup di tahun 2019?

 

Oleh: Tommy Fabianus, Digital Marketing Director Grab Essentials

 

 

Share this:

Leave a Reply

Please Login to comment
  Subscribe  
Notify of