Menjual Followers Palsu di Denda 750 juta?!

Essentials.id – Dengan berkembang pesatnya bisnis influencer di dunia marketing saat ini, menjadi influencer adalah pekerjaan yang sangat menggiurkan.

Hujan produk gratis untuk di review setiap hari dan mendapatkan bayaran untuk itu adalah impian banyak anak muda saat ini.

Pexels

Pemilik brand dan agency pun berburu influencer dengan followers terbanyak untuk mengiklankan produk mereka. Dengan jumlah influencers yang semakin banyak, influencers baru beramai-ramai mencari jalan pintas untuk mendapatkan jumlah followers tersebut.

SOLUSI: Beli Followers!

Eit nanti dulu, mari kita lihat pula dari sisi pemilik brand. Pemilik brand baru yang belum memiliki pengikut juga berlomba-lomba mendapatkan lebih banyak followers, terutama untuk meningkatkan nilai kredibilitas suatu brand.


Pexels

Jalan singkatnya: Beli Followers!

Sesudah followers palsu kita dapatkan, ternyata engagement yang didapatkan rendah, karena … yah karena semua yang follow kita adalah followers palsu yang notabene hanya berupa akun kosong dengan nama-nama hasil alogaritme automatisasi komputer. (pernah di follow: budi2454, rosa9123, uli_1299?). Mari kita perbaiki dengan beli engagement (comment dan likes).

Baca juga: Instagram Bersih-bersih, Menghapus Akun Palsu

Pada akhirnya kedua belah pihak, antara influencers dan brand yang menggunakan followers palsu hanya saling membohongi satu sama lain. Yang paling dirugikan yah kalian semua para konsumen.

Bayangkan kalau ini terjadi di jaman dahulu sebelum masa digital. Anggap saja Mr. X berusaha menjual produk kuenya. Karena produknya belum dikenal, Mr. X membayar 1000 orang untuk mengantri di depan tokonya. Memasang sertifikat BPOM abal-abal, mengatakan bahwa toko kuenya sudah berdiri 10 tahun dan membayar koran lokal, lalu membayar 1000 ibu-ibu socialite yang memakai barang branded KW agar layak dipanggil sosialita, untuk mengatakan semua hal di atas seakan-akan itu suatu kebenaran.

Yakinlah kalau Mr. X akan segera ditahan atas dasar penipuan dan false advertising.

Apa bedanya Mr. X dengan Brand X, yang membeli Instagram account yang sudah memiliki verifikasi & 1000 followers, membeli 1.000 followers lagi, kemudian membeli like dan engagement palsu, dan membayar influencers yang tidak pernah menggunakan Brand X untuk membagikan hal tersebut di atas seakan-akan itu kebenaran.

Sayangnya di dunia digital hal ini dianggap biasa dan dipandang sebelah mata, sampai ….

Sebuah perusahaan di Amerika dengan nama Devumi adalah perusahaan penjual followers dan engagement. Klien-klien Devumi yang berjumlah sekitar 200.000 terdiri dari artis-artis terkenal, atlit profesional, model dan lain sebagainya.

Letitia James, jaksa penuntut Umum New York berhasil menekan Devumi hingga perusahaan ini tutup dan membayar denda US $ 50.000 kepada pemerintah setempat akibat kegiatan mereka yang dikategorikan ilegal.

Menggunakan cara-cara ilegal untuk mendapatkan status influencer menjadi sorotan di Amerika akibat dugaan Rusia menggunakan banyak akun palsu untuk merubah pendapat khalayak banyak di Amerika untuk berpihak pada salah satu calon presiden.

Letitia James berjanji akan terus mencari perusahaan sejenis Devumi dan membawa mereka ke pengadilan untuk menjamin transparansi brand dan influencers kepada konsumen.

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan dekatnya pemilu 2019, banyak sekali bermunculan pula akun-akun palsu yang saling sahut menyahut di sosial media. Pemerintah sudah banyak melakukan tindakan tegas kepada mereka ini.

Namun bagaimana dengan jual beli followers dalam dunia digital marketing di Indonesia?

Sampai saat ini belum terlihat ada regulasi dan tindakan yang jelas untuk mengatur hal ini di Indonesia, padahal apabila di telaah secara seksama, membeli followers adalah termasuk dalam tindakan penipuan, menyamarkan realita dengan kepalsuan yang di konsumsi netizen mentah-mentah. Tidak ada batas tegas lagi antara “honest review” dan “paid review” di Indonesia, padahal di Amerika sudah ada regulasi untuk mengatur hal ini.

Mari pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bahan renungan dan bahan untuk memperbaiki sistem yang sudah terlanjur bobrok ini agar kalian-kalian juga yang berdiri sebagai konsumen, tidak terjebak. Cerdiklah dalam bersosial media.

Oleh: Tommy Fabianus. Digital Marketing Director Grab Essentials! & SEOIndonesia.co.id

Source: Mashable; The New York Times, Forbes

Share this:

Leave a Reply

Please Login to comment
  Subscribe  
Notify of